Punya Kinerja Baik di 2023, Apakah Saham BMRI Wajib Dimiliki?

Default

PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) adalah salah satu emiten yang paling diminati oleh investor di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham BMRI memiliki likuiditas tinggi dan harga yang sedang naik.

Selain itu, saham BMRI juga masuk kategori saham blue chip, yaitu saham yang memiliki kualitas dan reputasi baik, serta memberikan keuntungan yang menarik.

Bagi kamu yang ingin berinvestasi saham blue chip, saham BMRI bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun, sebelum membeli saham BMRI, ada baiknya kamu mengetahui lebih dulu profil, harga, dan prospek saham BMRI.

Disclaimer:

Investasi adalah kegiatan berisiko tinggi yang dapat menyebabkan kerugian finansial. Oleh karena itu, kamu harus memahami risiko yang terlibat, termasuk kemungkinan kehilangan modal. Semua keputusan investasi adalah tanggung jawab pengguna masing-masing. Jaka tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan (atau) kerugian yang mungkin terjadi akibat dari keputusan tersebut. Untuk mengurangi risiko investasi, Jaka sarankan untuk mempelajari analisa fundamental saham terlebih dahulu, ya!

Profil BMRI

BMRI didirikan pada tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, BMRI merupakan hasil penggabungan dari empat bank umum, yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor-Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia. Keempat bank tersebut berperan penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Sampai dengan Februari 2023, pemegang saham utama BMRI adalah Negara Republik Indonesia, yang memiliki 1 saham preferen (saham seri A dwiwarna) dan 52,00% saham seri B. Selain itu, Indonesia Investment Authority atau Lembaga Pengelola Investasi juga memiliki 8,00% saham BMRI. Sesuai dengan Anggaran Dasar Perusahaan, BMRI bergerak di bidang perbankan dan melakukan kegiatan usaha sesuai dengan ruang lingkup tersebut.

Harga Saham BMRI

Saham BMRI mengalami kenaikan 0,42 persen menjadi Rp6.000 per saham pada akhir perdagangan hari Selasa, 28 Desember 2023. Harga saham BMRI naik 41,3 persen sejak akhir tahun 2022, saat harga sahamnya Rp4.250 per saham.

Dari sudut pandang kinerja lima tahun terakhir, saham BMRI juga menguat 14,3 persen, dari Rp5.250 per saham di akhir tahun 2018. Selama setahun terakhir, saham BMRI bergerak di kisaran Rp4.450-Rp6.200. Meskipun demikian, BMRI menunjukkan tren kenaikan secara keseluruhan dalam laporan keuangannya.

Pada hari Senin, 27 Desember 2023, saham BMRI menjadi salah satu saham favorit investor asing, dengan total pembelian mencapai Rp191,73 miliar. Saham BMRI naik 0,42 persen menjadi Rp5.975 per saham. Jumlah saham BMRI yang diperdagangkan mencapai 48,70 juta saham dengan nilai transaksi sebesar Rp292,02 miliar.

Pada kuartal ketiga tahun 2023, BMRI mencatat rasio laba bersih sebesar 43,2 persen, meningkat 0,6 persen dari kuartal sebelumnya. Sementara itu, pendapatan BMRI mencapai Rp44,87 triliun, dengan laba bersih sebesar 19,39 triliun secara tahunan.

Angka-angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 18,27 persen untuk pendapatan, dan 28,67 persen untuk laba bersih. BMRI juga masuk dalam daftar emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar, yaitu Rp552,09 triliun.

Harga 1 Lot Saham BMRI

Dalam perdagangan saham, investor biasanya membeli saham dalam satuan lot untuk memudahkan transaksi dan menghemat biaya transaksi. Lot saham adalah satuan perdagangan saham yang digunakan di pasar saham. Setiap lot saham memiliki jumlah lembar saham yang ditentukan, tergantung pada aturan bursa efek di negara tempat saham tersebut diperdagangkan.

Di BEI, satuan lot saham yang digunakan adalah 100 lembar saham. Investor tidak bisa bertransaksi kurang dari jumlah tersebut, dan hanya bisa bertransaksi dengan kelipatan lot saham. Oleh karena itu, harga 1 lot saham BMRI akan tergantung pada harga saham Mandiri pada periode tertentu.

Sebagai contoh, pada tanggal 28 Desember 2023, harga 1 lot saham BMRI adalah 6.000 x 100 lembar, atau sebesar Rp600.000.

Perkembangan Saham BMRI

BMRI mendapatkan persetujuan resmi dari BAPEPAM-LK untuk melaksanakan Penawaran Umum Perdana Saham BMRI (IPO) kepada masyarakat pada tanggal 23 Juni 2003. Jumlah saham yang ditawarkan adalah 4.000.000.000 saham Seri B dengan nilai nominal Rp500,- per saham dan harga penawaran Rp675,- per saham. Saham-saham tersebut kemudian tercatat di BEI pada tanggal 14 Juli 2003.

Sejak awal, Bank Mandiri menunjukkan kinerja operasional yang terus meningkat. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan laba yang berkelanjutan, yakni Rp1,18 triliun pada tahun 2000 menjadi Rp5,3 triliun pada tahun 2004.

Pada semester pertama tahun 2022, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp20,2 triliun. Ini mengalami peningkatan sebesar 61,7% (YoY/Tahun) dari laba bersih semester pertama sebesar Rp12,5 triliun.

Pertumbuhan laba ini didorong oleh peningkatan profitabilitas, yang tercermin dari net interest margin (NIM) konsolidasi mencapai 5,37% pada kuartal kedua 2022, naik sebesar 32 basis poin (bps) dibandingkan dengan kuartal kedua 2021. Selain itu, return on equity (ROE) Bank Mandiri konsolidasi untuk kuartal kedua tahun 2022 mencapai 23,03%, meningkat sebesar 791 basis poin secara tahunan.

Potensi Saham BMRI

Sejak Mei 2023 hingga memasuki bulan Juni 2023, harga saham bank di kelompok blue chip sedang dalam tren meningkat. Saham blue chip merujuk pada saham-saham terkemuka di bursa efek, dengan jenis saham yang memiliki kapitalisasi pasar besar, mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah.

Di sektor perbankan, saham bank yang tergolong blue chip dan sedang menunjukkan kenaikan stabil di atas 2% antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) Tbk.

Harga saham BMRI sendiri menduduki posisi nomor 2 setelah BBRI dengan kenaikan hingga 4,50%. Penguatan saham bank dalam kelompok blue chip ini sejalan dengan pertumbuhan laba yang signifikan dan mencapai rekor keuntungan pada kuartal I/2023.

Dalam kategori saham blue chip, BMRI berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 12,6 triliun pada Q1 2023, meningkat 25,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kredit BMRI juga mengalami pertumbuhan sebesar 12,36% YoY menjadi Rp1.205 triliun.

Prospek pemulihan ekonomi dan daya beli memberikan potensi bagi pertumbuhan kinerja loan performing dan loan disbursement yang masih tetap meningkat di tahun 2023, setidaknya pada angka high single digit.

Para ahli sepakat bahwa saham BMRI menarik untuk diperhatikan, baik dari segi fundamental maupun teknikal. Meskipun pergerakan harga saham BMRI secara teknikal sedikit tertinggal dibandingkan dengan saham BBCA dan BBRI, potensi akumulasi pembelian saham dengan target harga Rp6.000 masih menarik.

Hal ini disebabkan oleh prospek yang cukup positif bagi saham BMRI dan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, meskipun bakal ada efek kampanye politik pemilu.

Prospek saham BMRI juga sejalan dengan prospek ekonomi Indonesia secara keseluruhan yang diperkirakan tetap tumbuh dengan optimal. Selain itu, likuiditas yang masih cukup longgar di bank besar seperti Mandiri tidak akan signifikan memengaruhi kenaikan suku bunga deposito sehingga potensi keuntungannya masih tinggi.

Akhir Kata

Itulah tadi penjelasan tentang saham BMRI yang menunjukkan perkembangan yang positif sejak IPO pada tahun 2003. Saham BMRI juga memiliki potensi yang cukup baik sejak Mei hingga Juni 2023, sejalan dengan prospek pemulihan ekonomi dan daya beli. Ini bisa menjadi pilihan bagi kamu yang ingin berinvestasi saham blue chip.

Baca artikel dan berita menarik dari JalanTikus lainnya di Google News

Baca juga artikel seputar Saham atau artikel menarik lainnya tentang Finansial

Tags Terkait: InvestasiBMRI IDX
Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal